Suriah akan Gelar Pemilu Kedua di Tengah Perang Sipil

Pemandangan salah satu sudut kota Damaskus, Suriah pada 17 Juni 2020. (LOUAI BESHARA / AFP)

Pemandangan salah satu sudut kota Damaskus, Suriah pada 17 Juni 2020. (LOUAI BESHARA / AFP

Damaskus: Suriah berencana menggelar pemilihan umum presiden bulan depan di tengah perang sipil yang masih berkecamuk di negara tersebut. Petahana Suriah, Bashar al-Assad, diyakini akan kembali berkuasa karena tidak adanya oposisi berarti.

Pemilu ini akan digelar meski Suriah masih dilanda perang sipil, krisis ekonomi, dan juga pandemi Covid-19.

Konflik berkepanjangan di Suriah sejak 2011 telah menewaskan sekitar 400 ribu orang dan membuat lebih dari separuh populasi negara tersebut kehilangan tempat tinggal.

Dilansir dari laman BBC pada Minggu, Ketua Parlemen Suriah Hamouda Sabbagh mengumumkan bahwa pemilu akan digelar pada 26 Mei mendatang. Ia mengatakan setiap tokoh yang ingin mencalonkan diri dapat mulai mendaftar pada Senin ini, 19 April 2021.

Khusus untuk warga Suriah yang berada di luar negeri, lanjut Sabbagh, dapat menggunakan hak pilih mereka di kedutaan besar Suriah pada 20 Mei.

Ini merupakan pemilu presiden kedua Suriah di tengah perang sipil. Pemilu sebelumnya pada 2014 dipandang tidak demokratis dan tidak sah oleh oposisi Suriah, Amerika Serikat, dan juga Uni Eropa. Pemilu Suriah 2014 berakhir dengan kemenangan telak Assad di angka 92 persen.

Dalam pemilu tersebut, Suriah untuk kali pertama mengizinkan tokoh selain keluarga Assad untuk mencalonkan diri. Namun dua capres kala itu tidak terlalu dikenal masyarakat Suriah.

Perang sipil di Suriah bermula dari unjuk rasa damai pro-demokrasi. Namun pasukan keamanan Suriah melakukan tindakan represif terhadap demonstran, yang kemudian memicu kubu oposisi mengangkat senjata dan memerangi pemerintah.

Pertempuran pun meletus di seantero Suriah. Konflik ini memicu keterlibatan sejumlah pemberontak, grup ekstremis, dan juga beberapa negara besar dunia.

Pasukan pro-Suriah kini sudah menguasai kembali sebagian besar negeri. Saat ini sebuah gencatan senjata rapuh masih berlaku antara pemerintah dan pemberontak untuk wilayah Idlib.

Peperangan memicu krisis ekonomi di Suriah, yang membuat nilai mata uang merosot dan harga-harga kebutuhan pokok melambung. Kondisi ini diperparah dengan kemunculan pandemi Covid-19 sepanjang 2020.


Medcom.id/ Willy Haryono/ WIL/ BBC.com.

Artikel ini telah tayang dilaman Medcom.id pada tanggal 19 April 2021 dengan judul “Suriah akan Gelar Pemilu Kedua di Tengah Perang Sipil”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *