Meneropong Peluang Koalisi Poros Islam di Pemilu 2024

Jakarta – Koalisi poros Islam menguat pada Pemilu 2024. Berawal dari wacana PPP-PKS yang membuka peluang, lalu disambut baik oleh partai Islam lain, seperti PKB, PAN, dan PBB. Lantas bagaimana peluangnya?

“Ini bisa menjadi reinkarnasi kekuatan poros Islam seperti pada 1999 waktu menjadikan Gus Dur sebagai presiden, ada momentum pas di mana kelompok politik Islam ini menyadari kekuatan politik mereka, mengkonsolidasi pemilih Islam. Ini tentu kabar baik yang tentu direspons positif,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno kepada wartawan, Kamis (15/4/2021).

Tapi koalisi itu, kata Adi, belum tentu berjalan lurus. Apalagi dalam mengusung capres. Perbedaan ideologis antar-partai Islam akan menjadi masalah jika mementingkan ego masing-masing.

“Cuma kan problem-nya poros Islam itu sering kali retak di tengah jalan, layu sebelum berkembang, karena beberapa faktor, karena ego sektoral, kedua karena faktor ideologi yang berbeda, ketiga karena tidak adanya figur kunci yang merekatkan mereka. Semua partai Islam mengaku bahwa merekalah yang kemudian dinilai punya kader terbaik untuk diusung jadi capres. Ini sering kali membuat mereka layu,” ujarnya.

“Kedua irisan ideologi Islam yang berbeda, harus diakui bahwa pemilih PKB, PKS, bahkan pemilih PAN sering nggak akur hanya persoalan qunut, tahlil nggak tahlil, atau ke kuburan atau tidak. Ini menjadi psikologi politik yang kerap dikatakan bahwa partai Islam sulit bersatu,” lanjut Adi.

Adi mengatakan peluang poros koalisi ini sangat besar untuk menang jika benar-benar terjadi. Adi menyebut poros Islam itu harus benar-benar bersatu mengesampingkan ego sektoral agak koalisi menjadi nyata

“Jadi poros Islam ini harus punya semangat bersatu, atas nama politik dan logika, tanpa itu semua poros Islam hanya sebatas wacana dan tidak akan nyata, jadi 3 hambatan ini harus dihilangkan agar terwujud. Kalau mau bicara capres harus dibuat konvensi secara terbuka dengan melibatkan publik,” tuturnya.

Hal senada disampaikan oleh pengamat politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin. Dia mengatakan peluang akan menjanjikan jika mereka bersatu meski terbilang sulit.

“Sangat sulit mereka bersatu. Jika bersatu, justru bagus. Namun akan sulit. Karena masing-masing partai Islam tersebut punya kepentingan masing-masing dan punya agenda masing-masing. Saat ini saja PPP di pemerintahan, PKS di oposisi. Bersatu di antara mereka itu hanya wacana. Sulit dalam tataran praktiknya. Jika pun nanti bersatu, mudah pecah kembali,” ujarnya.

“Umat Islam justru menunggu dan menyambut jika partai-partai yang berbasis massa Islam tersebut bersatu. Dan memiliki agenda satu yaitu memperbaiki nasib umat. Yang hingga kini masih melarat karena ditinggalkan oleh mereka. Saya tidak yakin mereka bersepakat mengusung satu capres. Jika bisa, itu bagus-bagus saja,” lanjut Ujang.

Ujang mengatakan persatuan poros Islam akan membentuk kekuatan, sehingga kemenangan mudah diraih.

“Jika bersatu, bisa-bisa saja menang. Karena persatuan itu akan membentuk kekuatan. Dan dengan kekuatan, kemenangan itu bisa saja diraih. Problem mereka sulit bersatu. Problem lainnya, koalisi yang dibangun nanti pun belum jelas seperti apa, lebih pada koalisi pragmatis dan taktis. Bukan koalisi berdasarkan ideologis. Koalisi pragmatis jika pun terjadi, akan mudah terpecah” tuturnya.

detik.com/Eva Safitri/eva/tor

Artikel ini telah tayang di laman detik.com pada tanggal 16 September 2021 dengan judul “Meneropong Peluang Koalisi Poros Islam di Pemilu 2024”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *