Kapolda Papua: KKB Dimanfaatkan untuk Pilkada hingga Bisnis

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw (Wilpret Siagian/detikcom)

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw (Wilpret Siagian/detikcom)

Jakarta – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua terus bermunculan dan beraksi secara sporadis, khususnya di Kabupaten Intan Jaya. Mereka bahkan berani menantang TNI/Polri untuk perang terbuka di wilayah tersebut.

Hal itu, menurut Kepala Polda Papua Irjen Paulus Waterpauw karena secara geografis berada di dataran tinggi. Bentuknya memipih dan banyak jurang terjal sehingga sangat sulit bagi TNI dan Polri melakukan operasi. “Bagi mereka (KKB) di sana sangat menguntungkan, kondisi tersebut,” papar Paulus kepada detikcom, Jumat (12/2/2021).

Baca juga: Pilkada dan Pilpres Digelar 2024, KPU-Bawaslu Bisa ‘Babak Belur’


Sejauh ini aparat keamanan kesulitan menangkapnya juga karena mereka hidup membaur dengan warga lokal. Di pihak lain, warga umumnya dalam perasaan terintimidasi sehingga tak berani melapor. Aparat juga kerap kesulitan mendeteksi karena tak semua paham bahasa yang digunakan.

“Harus dipahami ya, di Papua itu ada hampir 250 bahasa. Mereka tak perlu sandi khusus, masing-masing bicara saja menggunakan bahasa ibu kita pasti tidak paham,” ujar Paulus Waterpauw.

Jenderal Bintang Dua kelahiran Fak-fak, 25 Oktober 1963, itu mensinyalir eksistensi KKB ada yang pernah memanfaatkan untuk kepentingan politik. Mereka diminta menyerang salah satu peserta pemilihan kepala daerah, misalnya. Juga untuk melampiaskan kekecewaan bila ada pihak yang tak mendapatkan proyek.

Baca juga: Bawaslu Sebut Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 Bakal Timbulkan Banyak Masalah

“Indikasi-indikasi semacam itu terasa tapi butuh pembuktian di lapangan yang tidak mudah,” kata Paulus Waterpauw.

Di Intang Jaya ada banyak KKB di bawah pimpinan orang-orang tertentu yang umumnya pengangguran. Paulus antara lain menyebut Undius Kogoya, Anton Tabuni, Rufinus Tigau, dan Sabinus Waker.

“Mereka adalah free man, tak punya pekerjaan. Lalu merekrut sesama anak muda pengangguran, bila tak mau ikut orang tua mereka diancam dibunuh,” kata Paulus.

Baca Juga: Ketua Bawaslu Papua: Pergantian Ketua Bawaslu Nabire tak ada kaitan dengan Pilkada

Khusus Undius Kogoya, saat ini menjadi Kepala operasi KKB di Intan Jaya. Dia merupakan kakak dari Tandi Kogoya, pelaku penyerangan di area Kantor Freeport di Kota Kuala Kencana, dekat Kota Timika pada 20 Maret 2020. Tandi tewas bersama Manu Kogoya pada 9 April lalu dalam kontak senjata dengan Satgas TNI-Polri di Jalan Trans Nabire. Kematian Tandi, menurut Paulus, membuat Undius menaruh dendam sehingga membuat berbagai aksi kekerasan di Intan Jaya.

Selain bicara soal aksi-aksi kekerasan oleh KKB dan peta kekuatan mereka, Paulus Waterpauw sempat menyinggung pentingnya penyelesaian berbagai kasus pelanggaran HAM di masa lalu

Detik.com/ Deden Gunawan/ ddg/ jat.

Artikel ini telah tayang dilaman Detik.com pada tanggal 14 Februari 2021 dengan judul “Kapolda Papua: KKB Dimanfaatkan untuk Pilkada hingga Bisnis”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *