Gerakan Perlawanan Kudeta Myanmar Meluas, Dosen-Mahasiswa Ikut Demo

Jakarta¬†–¬†Gerakan perlawanan warga sipil di Myanmar semakin meningkat dengan bergabungnya para dosen dan mahasiswa dalam memprotes kudeta militer.

Demonstran di universitas di kota terbesar, Yangon, meneriakkan dukungan kepada pemimpin yang ditahan, Aung San Suu Kyi dan mengenakan pita merah, warna partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi, NLD.

Suu Kyi dan para pemimpin lain ditahan sejak militer melancarkan kudeta Senin (01/02) lalu.

Ratusan dosen dan mahasiswa berkumpul di luar Universitas Dagon Jumat (05/02) dengan simbol tiga jari – tanda yang banyak dilakukan oleh para pengunjuk rasa untuk menunjukkan penentangan terhadap militer.

“Kami tidak akan membiarkan generasi kami menderita di bawah diktator militer,” kata Min Sithu, seorang mahasiswa kepada kantor berita AFP.

Protes kecil di depan Universitas Mandalay, Kamis (04/02). (Reuters)

Para mahasiswa di Universitas Dagon meneriakkan, “Hidup Ibu Suu” dan membawa bendera merah, warna NLD.

Demonstrasi terjadi di sejumlah tempat di Myanmar.

Warga Yangon memukul panci atau kaleng sebagai protes terhadap kudeta militer, Selasa (02/02) malam. (Getty Images)

Warga di sejumlah kota termasuk di Yangon melakukan protes pada malam hari dari rumah-rumah mereka dengan memukul panji dan wajan dan menyanyikan lagu-lagu revolusioner.

Pada siang hari, protes dilakukan antara lain dengan membunyikan klakson mobil.

Petugas kesehatan di sejumlah kota besar juga melakukan protes-protes kecil dan mogok kerja, sedangkan para aktivis menyerukan aparat sipil negara menolak bekerja untuk pemerintahan yang baru.

Namun kendali militer sangat kuat.

Seruan untuk membebaskan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi bergema di Myanmar sejak penangkapan pada Senin (01/02) dini hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *