Luar Negeri

Dewan Pemilu Tetapkan Pedro Castillo Jadi Presiden Baru Peru

Medanbisnisdaily.com – Lima – Kandidat dari partai Marxis-Leninis Peru Libre Pedro Castillo memenangkan 50,12 persen suara, pesaingnya dari kubu populis sayap kanan Keiko Fujimori 49,87 persen dalam pemilihan presiden 6 Juni lalu, menurut Komisi Pemilu Peru ONPE.

Keiko Fujimori menolak mengakui hasil penghitungan dan mengajukan gugatan. Hari Senin (19/7) Badan Pemilihan Tertinggi JNE menyatakan Pedro Castillo sebagai pemenang pemilu. Menurut Komisi Pemilu ONPE, Pedro Castillo menang tipis dengan lebih dari 44.000 suara.

Keiko Fujimori, 46, pada awalnya memimpin, tetapi gelombang berbalik ketika suara dari daerah pedesaan, di mana Castillo mendapat dukungan kuat, dihitung. Dia menuduh “penyimpangan” dalam penghitungan dan “tanda-tanda penipuan,” dalam tuduhan yang dibantah oleh ONPE.

Pemantau pemilu dari Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) juga menyatakan bahwa pemilu berlangsung tanpa penyimpangan besar.

Keiko Fujimori terima kekalahan
Segera setelah pengumuman itu, Keiko Fujimori, putri mantan presiden Alberto Fujimori, dalam pidato yang disiarkan televisi menyatakan bahwa dia akan “menerima hasil ini, karena itulah hukum dan konstitusi yang dia bersumpah untuk mempertahankannya.”

Sementara Pedro Castillo mengucapkan terimakasih kepada rakyat Peru dan para pendukungnya: “Terima kasih kepada rakyat Peru atas kemenangan bersejarah ini,” tulisnya di Twitter.

Kemenangan Pedro Castillo merupakan pukulan telak bagi kalangan elit politik di ibukota Peru, Lima, yang lebih dekat ke kubu Fujimori. Mereka menganggap Castillo sebagai “orang luar” dan tidak punya kapasitas. Sebelum memulai kampanyenya, Castillo bahkan tidak memiliki akun Twitter. Para pengamat pasar di Peru khawatir bahwa investor asing akan menarik modalnya.

Artikel Terbaru:

Tantangan besar
Keiko Fujimori, yang merencanakan untuk mengampuni ayahnya jika dia menang, adalah pendukung kebijakan ekonomi neoliberal.

Meskipun Pedro Castillo dan Keiko Fujimori mewakili kubu politik yang yang berlawanan, sebenarnya mereka tidak jauh berbeda dalam pandangan sosial-politik. Keduanya mewakili citra keluarga yang konservatif, menentang pernikahan sesama jenis dan aborsi. Keduanya juga fokus pada eksploitasi sumber daya alam dan tidak terlalu mementingkan perlindungan lingkungan dan hak asasi manusia.

Pedro Castillo akan menghadapi tantangan besar sebagai presiden. Peru sangat menderita akibat pandemi virus Corona, dengan tingkat kematian tertinggi di dunia. Ekonominya tahun lalu menyusut 12,9 persen.

medanbisnisdaily.com/dtc/Iwan Guntara

Artikel ini telah tayang di laman medanbisnisdaily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *