Banner Penolakan Politik Dinasti Ramai Diperbincangkan di Banyuwangi, Siapa yang Masang?

Salah Banner penolakan politik dinasti yang terpasang di Banyuwangi

BANYUWANGI – Maraknya banner penolakan politik dinasti marak beredar di Kabupaten Banyuwangi menjadi perbincangan. Pemasangan banner bertuliskan “Jadikan Banyuwangi Destinasi Bukan Dinasti” terpasang di sejumlah lokasi strategis, menjadi penyebabnya.

Dari tulisan yang terpasang di billboard banner tersebut dipasang mengatasnamakan Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu (GARABB).

Koordinator GARABB (Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu) M. Lukman Mahardika membenarkan billboard yang terpasang pihaknya yang membuat.

“Kami pasang di jalan protokoler Wolter Monginsidi, di Jalan Diponegoro depan Sun East Mall Kecamatan Genteng, dan di Jalan Gatot Suprapto, Ketapang depan pelabuhan ASDP,” ujar Lukman saat ditemui pada Minggu (1/11/2020).

Pihaknya juga membranding mobil berjumlah tiga kendaraan serta memasang banner yang berjumlah sekitar seratus lembar ukuran 60 sentimeter x 90 sentimeter serta ukuran 1,5 meter x 2 meter dengan narasi kalimat isinya hampir sama dengan banner yang ramai diperbincangkan itu.

Dia menjelaskan ini bukan hal baru. Sebab GARABB sudah mengkampanyekan ini sejak bulan sebelum adanya penetapan. menurutnya ini sah sah saja, karena itu juga bagian dari demokrasi dan itu juga terjadi di berbagai daerah yang terindikasi politik dinasti.

“Sekitar bulan januari, februari 2020 kami juga mencetak selebaran bahaya politik dinasti, kami juga sosialisasi tentang apa itu politik dinasti, kami masuk ke kelompok millenial, ormas, masyarakat. kami juga mengkampanyekan ini lewat media sosial resmi kami,” tuturnya.

Hal ini lanjutnya sebagai bentuk ekspresi atas kecintaannya kepada Kabupaten Banyuwangi, agar tidak tercoreng oleh praktik-praktik politik dinasti. Sebab perlu diketahui bersama nama Banyuwangi sudah baik sebagai kabupaten destinasi wisata.

“Harapan kami tentu demokrasi di Banyuwangi lebih berkembang lagi. Kaderisasi partai politik hidup. Karena politik dinasti itu jelas mengebiri demokrasi dan politik dinasti cenderung dengan praktik korupsi,” tegasnya.

Dia berharap agar pemerintah pusat, DPR RI serta lembaga terkait ke depan membuat aturan hukum yang kuat sebagai upaya membatasi lahirnya kekerabatan atau politik dinasti. Menurutnya, tumbuh suburnya wajah kekerabatan politik semakin menguat sejak bergulirnya reformasi politik dengan runtuhnya rezim otorarian orde baru pada 1998.

“Padahal, sempat ada aturan dalam pasal 7 UU nomor 8 tahun 2015 tentang Pilkada yang melarang calon kepala daerah memiliki hubungan kerabat dengan sejawat.
sayangnya regulasi itu tidak bertahan lama, setelah dilakukan uji material ke mahkamah konstitusi dan membatalkan pasal tersebut,” bebenya.

Masyarakat disebutnya perlu tahu, bahwa saat ini sudah memasuki masa kampanye dan Pilkada di Banyuwangi saat ini diikuti oleh dua pasangan. Ia menilai kedua-duanya merupakan orang yang erat kaitannya dengan bupati yang saat ini menjabat Abdullah Azwar Anas.

“Yaitu nomor urut satu H.Yusuf Widyatmoko dengan KH.M Riza Aziziy dan Ipuk Fiestiandani berpasanganĀ  dengan H.Sugirah dengan nomor urut dua. Kedua duanya masuk bagian politik dinasti, yang mana H.Yusuf Widyatmoko menjabat wakil bupati selama 10 tahun dan Hj.Ipuk Fiestiandani adalah istri bupati banyuwangi saat ini,” paparnya.

GARABB mengimbau kepada pemilih agar melihat rekam jejak atau biodata kandidat pilkada banyuwangi serta mencari tahu tentang program kerja, visi, dan misi dalam menentukan pilihannya. Hal ini supaya pemimpin yang dihasilkan bisa menyejahterakan rakyat dan memutus politik dinasti.

Sebagai informasi, KPU telah menetapkan 2 pasangan calon yang akan berkontestasi pada 9 Desember mendatang. Paslon 1 yakni Yusuf Widyatmoko – Muhammad Riza Aziziy yang diusung oleh partai Demokrat, Golkar, PKB dan PKS. Sementara Paslon 2 Ipuk Fiestiandani – Sugirah diusungĀ  partai NasDem, PDI Perjuangan, Gerindra, Hanura dan PPP.

Suarajatimpost.com/ WAN.

Artikel ini telah tayang dilaman Suarajatimpost.com pada tanggal 1 November 2020 dengan judul “Banner Penolakan Politik Dinasti Ramai Diperbincangkan di Banyuwangi, Siapa yang Masang?”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *